PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM KLIEN DALAM PELAYANAN ASUHAN KEBIDANAN
1. PENGERTIAN KLIEN
2. ORANG-ORANG YANG DISEBUT KLIEN DALAM
ASUHAN KEBIDANAN
Orang-orang
yang disebut pelanggan atau klien dalam pelayanan kebidanan adalah :
1.
Bayi baru lahir
2.
Balita
3.
Remaja putri
4.
WUS ( Wanita Usia Subur )
5.
PUS ( Pasangan Usia Subur )
6.
Pasutri ( pasangan suami istri )
7.
Wanita pada masa pra-menopause, menapouse,
dan pascamenopause
3. TIPE-TIPE PELANGGAN DALAM PELAYANAN KEBIDANAN
Pelanggan
dalam pelayanan kebidanan dibedakan atas 3 tipe yaitu :
1. Pelanggan yang menerima asuhan: bayi,
balita, remaja putri, ibu.
2. Pelanggan pengguna pelayanan kebidanan.
Secara sederhana pelanggan dalam pelayanan
kebidanan dapat dikelompokkan menjadi dua:
a.
Pelanggan eksternal ( bayi, balita,
remaja, ibu, yang membayar asuhan yang diberikan).
b. Pelanggan internal ( bidan, dokter, dan
tenaga kesehatan lainnya, serta tenaga yang terlibat dalam pemberian asuhan
atau pelayanan secara langsung).
3.
Pelanggan yang membayar pelayanan
kebidanan atas nama klien:
a. Instansi kesehatan berwenang (
jamsostek/askes).
b.
Praktisi umum.
4 LINGKUP/BIDANG KONSELING KEBIDANAN
- Konseling pada anak-anak
Seorang anak membutuhkan bimbingan dan dukungan moral dan fisik dari keluarga yang juga akan mengatur cara pandang mereka. Karenanya hubungan anak dengan anak lainnya didasarkan pada keyakinan, presfektif, aturan dan nilai keluarga.memahami kebutuhan anak, sangat diperlukan dalam membantu menyikap perilaku emosional mereka.
- Konseling pada remaja
Remaja merupakan aset bangsa yang sangat menentukan bagaimana kualitas bangsa dimasa mendatang baik kualitas kepribadian, kesehatan, maupun pendidikannya. Saat ini masalah pendidikan dan kesehatan remaja menjadi topik pembicaraan diberbagai kalangan.Bidan sebagai tenaga kesehatan dan anggota masyarakat, bertanggungjawab terhadap permasalaha yang diadapi remaja. Untuk itu, peranan bidan sebagai konselor akan sangat membantu dalam penangan masalah remaja. Menjadi tugas bidan untuk memberikan bimbingan dan konseling sehingga dapat membantu meningkatkan derajat reproduksi remaja.
Topik
konseling remaja yang dapat diberikan bidan meliputi hal-hal sebagai berikut :
1.
Remaja dan kesehatan reproduksi remaja
2.
Seksualitas
3.
Pengenalan organ reproduksi laki-laki dan perempuan
4.
Proses terjadinya kehamilan, kehamilan
yang tidak dikehendaki, dan aborsi yang tidak aman.
5.
IMS dan HIV/AIDS
6.
Isu gender
7.
Narkoba dan zat adiktif
8.
Hubungan dengan pasangan sebelum dan
sesudah menikah
9.
Kekerasan pada remaja
Bidan sebagi konselor melaksanakan konseling terhadap remaja yang
bermasalah juga kepada keluarga sebagai orang tua, bertujuan antara lain:
1.
Mencegah upaya abortus provokatus
2.
Mendorong ibu ( remaja yang hamil ) untuk
mencari pelayanan kesehatan
3.
Mempersiapkan kelahiran bayi secara normal
4.
Mempersiapkan ibu dan keluarga agar
menerima kelahiran bayi
5.
Pada orang tua remaja, mendorong untuk
diresmikannya pernikahan putra putrinya
3 3. Konseling pada ibu atau calon
orangtua
aktivitas konseling calon
orangtua/menjad orangtua membantu pemahan diri untuk menjadi orangtua baik
sebagai ayah maupun sebagai ibu.
4. Konseling masa antenatal atau konseling pada ibu hamil
Konseling pada masa antenatal terutama
ditujukan pada ibu dengan kehamilan pertama,dalam hal ini bidan perlu
menginformasikan beberapa hal:
Perubahan pada trisemester pertama:
1. Perubahan pada fisik pada ibu hamil :
a.
Mual yang dapat disertai muntah
b.
Enggan makan dan mengidam
c.
Perubahan payudara
d.
Keletihan dan rasa mengantuk
e.
Sering berkemih
f.
Rasa perut panas, gangguan pencernaan,
kembung.
2. Perubahan psikologis pada ibu hamil
a.
Merasa tidak nyaman
b.
Muncul penolakan, kekecewaan, kecemasan,
dan kesedihan
c.
Perasaan tidak menentu yang tidak
diketahui penyebabnya
Perubahan pada trisemester kedua:
1.
Perubahan fisik
a.
Ibu masih merasa letih
b.
Frekuensi sering berkemih mulai berkurang
c.
Berkurangnya mual dan muntah
d.
Kadang-kadang sembelit
e.
Nafsu makan bertambah dll
2.
Perubahan psikologis
a.
Ibu sudah merasa sehat
b.
Ibu sudah bisa menerima kehamilannya
c.
Merasakan pergerakkan janin
d.
Merasa terlepas dari ketidak nyamanan dan
kekhawtiran
Perubahan pada trisemester ketiga:
1. Perubahan fisik
a.
Sesak nafas
b.
Nyeri punggung
c.
Nyeri tekan payudara
d.
Sering berkemih
e.
Konstitasi dll
2. Perubahan psikologis
a. Rasa tidak nyaman timbul lagi, merasa dirinya jelek, aneh dan tidak menarik Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik
yang timbul pada saat melahirkan
b. Merasa sedih karena akan terpisah dengan
bayinya
c. Merasa kehilangan perhatian
Bidan sebagi konselor dalam konseling pada
ibu hamil harus memperhatikan umur kehamilan dan keadaan ibu pada saat itu.
Pada tahap awal konseling, selalu diadakan hubungan yang mengenakan seperti
pelaksanaan konseling pada umum
5. Konseling pada ibu bersalin ( melahirkan )
Konseling pada ibu melahirkan/pemberian
bantuan pada ibu yang melahirkan dengan kegiatan bimbingan proses melahirkan.
Tujuan aktivitas ini untuk kesejahteraan ibu dan proses kelahiran dapat
berjalan dengan semestinya.
Keberhasilan proses persalinan sampai
terjadi kelahiran bayi ditentukan oleh empat faktor yang mencakup : (1).
Psikis, adalah keberadaan mental dan emosional ibu. (2). Power, merupakan
kekuatan otot-otot uterus dan otot abdomen. (3). Passegeway, terdiri atas
vagina, introitus vagina, dan tulang panggung. (4). Passenger, merupakan hasil
konsepsi, janin, plasenta, dan cairan amnion yang memberi pengaruh terhadap
persalinan.
Konseling pada ibu bersalin dapat dibagi
menjadi beberapa tahap yaitu tahap 1, tahap 2, tahap 3, tahap 4.
Bantuan konseling pada ibu nifas, meliputi : adaptasi pada masa nifas, teknik menyusui dan perawatan payudara atau manajemen laktasi. Pemahaman klien terhadap keadaan pada dirinyaperlu memperoleh batuan, adanya perasaan nyerisetelah bersalin, engorgement, proses involusi, proses lokhea, laktasi. Pelaksanaan asuhan kebidanan dengan rawat gabung (rooming in) yang artinya pelaksanaan rawat gabung ibu dan bayainya.
7. Konseling keluarga berencana
konseling merupakan aspek yang
sangat penting dalam pelayanan kb. Dengan melakukan konseling, berarti petugas
membantu klien dalam memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang akan
digunakan sesuai dengan pilihan. Disamping itu dapat membuat klien merasa lebih
puas. Konseling yang baik juga akan membantu klien dalam menggunakan
kontrasepsi yang lebih lama dan meningkatkan keberhasilan kb. Konseling juga
dapat mempengaruhi intraksi antara petugas dan klien dengan cara meningkatkan
kebutuhan dan kepercayaan yang sudah ada. Namun sering kali konseling diabaikan
dan tidak dilaksanakan dengan baik, karna petugas tidak memepunyai waktu dan
mereka tidak mengetahui bahwa dengan koseling klien akan lebih mudah mengetahui
nasihat. Konseling adalah proses yang berjalan dan menyatu dengan semua aspek
pelayanan kb dan bukan hanya informasi
yang dibicarakan dan diberikan pada satu kesempatan yakni pada saat pemberian
pelayanan. 1. Hal-hal yang dibutuhkan utntuk melakukan konseling KB yang baik terutama bagi calon klien KB baru:
a. Perlakukan klien yang baik
b. Intraksi antara petugas dan klien
c. Memberikan informasi yang baik terhadap klien
d. Hindarin pemberian informasi yang berlebihan
e. Tersedianya metode yang diingankan klien
f. Membantu klien untuk mengerti dan mengingat
2. Langkah langkah konseling KB
2. Langkah langkah konseling KB (SATU TUJU)
Kata kunci SATU TUJU adalah:
SA: Berikan salam kepada klien secara terbuka
dan sopan.
T: Tanyakan kepada klien informasi tentang
dirinya
U: Uraikan kepada klien mengenai pilihannya
dan beritahu apa pilihan reproduksi
yang paling mungkin, termasuk pilihan beberapa jenis kontrasepsi.
TU: Bantulah klien menentukan pilihannya
J: Jelaskan secara lengkap bagaimana
menggunakan kontrasepsi pilihannya.
U: Perlunya dilakukan kunjungan ulang
8. Konseling genetik
Konseling genetik pada hakikatnya akan
menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan kelainan pada suatu keluarga, serta
memberikan gambaran dan dapat memperkirakan terulangnya suatu kelainan didalam
keluarga yang sama.
Fungsi konseling genetik:
1.
Funsi preventif tingkat I, iyalah
memberikan informasi tentang berbagai faktor genetik yang mungkin ada.
2.
Fungsi preventif tingkat II, ialah
mengadakan deteksi pasangan calon suami istri yang berkaitan dengan masalah
genetik, baik dalam masa pra konsepsi maupun pra kelahiran.
3.
Fungsi preventif tingkat III, memberikan
informasi tentang langka-langka dalam pengambilan keputusan orang tua yang
memiliki anak dengan kelainan.
Cara pelaksanaan konseling genetik:
a.
Mengdakan anamnesis untuk mengali masalah
yang berkaitan dengan keturunan dan menyusun pedegre (genogram).
b.
Mengajak pasangan untuk memahami
kemungkinan terjadinya kelainan genetik atau kelainan herediter.
c.
Mencari jalan keluar bersama klien dengan
pasangannya dan memberikan alternatif jalan keluar.
d.
Mendorong klien dan pasangannya untuk
mengambil keputusan secara cepat.
e.
Mambantu klien untuk melaksanakan jalan
keluar yang sudah dipilih.
9. Konseling menopause
Wanita yang mengalami monopous dini
memiliki gejala yang sama dengan monopous pada umumnya seperti hot flashes
(perasaan hangat diseluruh tubuh yang terutama terasa pada dada dan kepala),
gangguan emosi, kekeringan pada vagina, dan menurunnya keingina berhubungan
seksual.
Gejala meno dan primenopouse
1.
Gejala jangka pendek : vaso motorik: hot
flashes, gangguan tidur, palpitasi, sakit kepala.
Perubahan psikis/gejala psikologis
Kejadian defenisi ini juga dijumpai pada
laki-laki. Stres sosial juga dapat mempengaruhi persaan sejahtera seorang
wanita disekitar masa menopouse dan mungkin berhubungan dengan
kejadian-kejadian:
a.
Kematian atau sakitnya orang tua.
b.
Perpisahan atau ketidak harmonisan
perkawinan.
c.
Kurangnya kepuasan pada pekerjaan
d.
Penambahan berat badan dan kegemukan.
2.
Gejalah menegah, berubah: pemenurunnya
keingina berhubungan seksual, kekeringan pada vagina, urogenital, ovarium,
uterus, servik, vulva, organ lain: rambut, kulit, mulut dan hidung, mata otot
dan sendi, saluran pernapasan payudara.
3.
Gejala jangkaa panjang: osteoporosis,
penyakit cardiovascular
10. Konseling tentang kekerasan
Perbedaan gender merupakan faktor pemicu
terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan terhadap perempuan (KTP)
adalah setiap tindakan yang berakibat kesensaraan atau penderitaan pada
perempuan baik secara fisik, seksual, atau psikologis, termasuk pemaksaan atau
perampasan secara sewenang-wenang baik yang terjadi didepan umum atau dalam
lingkungan kehidupan pribadi. Seringkali kekerasan terhadap perempuan terjadi
karena adanya ketimpangan atau ketidak adilan gender.
Hak istimewah yang dimiliki laki-laki ini
seolah-olah menjadikan perempuan sebagai barang milik laki-laki yang berhak
untuk diperlakukan semena-mena, termasuk dengan cara kekerasan, perempuan pun
berhak memperoleh perlindungan hak asasi manusia.
Kekerasan perempuan dapat terjadi dalam
bentuk kekerasan fisik, noon fisik, serta psikologis atau jiwa. Kekerasan fisik
adalah tindakan yang bertujuan untuk melukai, menyiksa, menganiaya orang lain.
Tindakan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan anggota tubuh pelaku atau
dengan benda lain.
Kekerasan nonfisik adalah tindakan yang
bertujuan merendahkan citra atau kepercayaan diri seseorang perempuan, baik
melalui kata-kata maupun melalui perbuatan yang tidak disukai oleh korbannya.
5. STRATEGI MEMBANTU KLIEN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Melakukan
strategi membantu klien dalam pengambilan keputusan:
Setiap
keputusan yang bersifat kompleks, terdapat banyak faktor dan persasaan
Tercakup
didalamnya.
1. Ada 4 strategi yang dapat membantu klien
membuat keputusan:
a. Membantu klien meninjau kemungkinan
pilihannya
b.
Membantu klien dalam mempertimbangkan
keputusan pilihan
c. Membantu klien mengevaluasi pilihan
d.
Membantu klien menyusun rencana kerja
2. 3 K dalam pembuatan keputusan yang baik
a. Langkah pertama
Identifikasi kondisi yang dihadapi oleh klien
b. Langkah kedua
Susunlah daftar kehendak atau pilihan keputusan
c.
Langkah ketiga
Untuk setiap pilihan buatlah daftar konsekuensinya baik yang positif maupun
yang negatifnya
3. Tahapan ini merupakan inti dari proses
konseling
a.
Konselor membantu klien memahami
permasalahnnya
b.
Konselor membantu memberikan alternatif
pemecahan masalah
c.
Konselor membantu klien memilih alternatif
pemecahan masalah dengan segala konsekuensinya.
6. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN
KEPUTUSAN
Didasarkan pada rasa yang dialami tubuh,seperti: rasa sakit, tidak nyaman, atau nikmat. Ada kecenderungan menghadirkan tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang; atau sebaliknya memilih tingkahlaku yang meberikan kesenangan.
2. Emosional
Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada situasi secara subjektif.
3. Rasional
Didasarkan pada pengetahuan. Orang-orang mendapatkan informasi, memahmi situasi dan berbagai konsekuensinya.
4. Praktikal
Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakannya. Seorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuan dalam bertindak.
5. Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan-jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang ke orang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.
6. Struktural
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik, lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.
7. TIPE-TIPE/JENIS-JENIS
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
2. Pengambilan keputusan intuitif, sifatnya; langsung diputuskan, karena keputusan tersebut diraakan paling tepat.
3. Pengambilan keputusan yang terpaksa,karna segera dilaksanakan.
4. Pengambilan keputusan yang reaktif. Sering kali dilakukan dalam situasi marah dan tergesa-gesa.
5. Pengambilan keputusan yang ditangguhkan, dialihkan pada orang lain yang bertanggungjawab.
6. Pengambilan keputusan secara berhati-hati: dipikirkan baik-baik, mempertimbangkan berbagai pilihan.
Tegaskan bahwa bidan bertujuan membantu klien dengan berhati-hati, bijaksana,serta mengambil keputusan yang didasarkan pada pengetahuan, fakta dan juga mempertimbangkan semua pilihan.
Pemberian informasi dilakukan setelah mendengarkan dengan aktif masalah
klien dan pertanyaan klien tentang informasi. Konseling bukan proses pemberian
informasi, tetapi dalam proses konseling mengandung unsur-unsur pemberian
informasi konselor memperoleh data atau informasi tentang keadaan dan kebutuhan
klien dan informasi yang diberikan sesuai kondisi dan kebutuhan klien.
Pemberian informasi efektif, bila :
1.
Informasi yang diberikan spesifik, dapat
membantu klien dalam mebuat keputusan
2.
Informasi disesuaikan dengan situasi
klien, dan mudah dimengerti
3.
Diberikan dengan memperhatikan hal-hal
berikut:
a.
Singkat, dan tepat ( pilih hal-hal penting
yang perlu diingat klien )
b.
Menggunakan bahasa sederhana
c.
Gunakan alat bantu visual sewaktu
menjelaskan
d.
Memberikan kesempatan klien bertanya dan
minta klien mengulang hal-hal penting yang perlu diingat .
9. UPAYA MENGATASI KESULITAN PADA KLIEN
Tiap individu harus paham akan dirinya.
Dengan pemahaman terhadap diri maka kita akan bisa mengatasi
kesulitan-kesulitan yang terjadi saat komunikasi yang berasal dari komunikator
atau bidan sendiri. Adapun untuk memperlancar komunikasi/konseling persiapan
materi, bahan, alat yang bisa mempermudah penerimaan klien terhadap apa yang
akan kita sampaikan perlu dipersiapkan sebelumnya. Sebagai seorang bidan kita harus
menguasai ilmu komunikasi sehingga dapat melakukan konseling dengan baik pada
semua klien dengan bermacam karakter dan keterbatasan mereka.
9
semangat milan…
BalasHapus